Menurut keyakinan saya, Indonesia memang sepertinya disusupi suatu agenda tersembunyi. Kita gak bisa terus-terusan naif pura-pura gak tau. Coba kita merenung sebentar, sebentar saja. Kita semua tau, siapapun dari kalangan manapun, bahwa "Pendidikan adalah pondasi suatu bangsa", artinya pendidikan memiliki peranan begitu penting. Ada agenda yang sengaja men-set agar bangsa Indonesia selalu bodoh. Bagaimana jalannya? Ada banyak yang bisa kita lihat dengan jelas dan sangat kasat mata. 1. Guru dibuat agar selalu tertindas Mungkin kita pernah melihat atau setidaknya mendengar "katanya" gaji guru itu 300 ribu/bulan dan dibayar bisa terlambat 1-2 bulan. Fakta pahitnya, itu bukan "katanya" tapi "faktanya". Yes, itu fakta yang bukan hiperbola. Gila lu, 300 ribu/bulan bahkan gak jarang dibayar per 3 bulan. Ini bukan bercanda. Mereka itu bekerja bukan main-main. Mereka ada absen masuk dan absen pulang, ada minimal waktu bekerja, tidak semaunya masuk dan pulang (ada aturan yang harus dipatuhi). Bahkan gak jarang kerjaan sampai dibawa ke rumah. Bukan karena kerjaan mereka lambat, tapi karena kerjaan yang overload sehingga secara gak langsung memaksa unpaid overtime. Tugas anak-anak murid yang dikerjakan di buku harus diperiksa satu per satu. Kita hitung kasar: 1 kelas 35 siswa dikali 1 tingkat 8 kelas = 280 anak. Artinya ada 280 buku yang harus dikoreksi satu per satu. Bandingkan dengan kerjaan buruh yang 8 jam kerja selesai, pulang, beres, tidak ada kerjaan di luar jam. Gaji? UMR minimal. Overtime? Dibayar. Gaji tahun depan cuma naik sedikit? Demo besar-besaran. Lihat guru! Tiap tahun segitu-segitu aja. Bro!!! Ini gila, bukan bercanda. 2. Makan Bergizi Gratis (MBG) Awal tahun 2025 ada program namanya Makan Bergizi Gratis (MBG). Kita harus buka mata, siapa yang mengurus kegiatan di sana? Orang-orang yang dibayar 2-5 juta/bulan. Kalau kita hitung harian, berkisar 100-200 ribu/hari. Artinya, gaji guru 1 bulan setara dengan 2-3 hari kerja orang di MBG. Oh, gak berhenti di situ. Mereka bukan pekerja, mereka RELAWAN. Waw banget kan? Kalau yang dibayar 2-5 juta/bulan dikatakan relawan, apa kabar guru? Budak kah? Cukup di sana? Belum! Guru wajib Sarjana, sedangkan relawan MBG tidak mesti. *ketawamiris. No offense sama relawan (pekerja) MBG, tapi kita lihat dari sisi lain. Ini hanya mempertegas bahwa pemerintah sebetulnya bukan gak punya duit, tapi memang kembali lagi ke poin di atas: bahwa sektor pendidikan sengaja di-set agar hancur. Alih-alih uang yang sebegitu besar disalurkan ke yang urgent, malah lari ke sana. Di akhir kalimat, saya mau mengatakan: kita seharusnya mulai membuka mata dan sadar bahwa ini adalah kejahatan. Jangan terus "maklum", apalagi mengatakan, "Ya siapa yang nyuruh lu jadi guru, udah tau gajinya kecil." Itu kalimat yang sangat jahat terhadap seseorang yang peduli terhadap bangsanya. Kalau semua punya prinsip seperti itu, minggu depan negara langsung bubar.

Keren sih
Langit biru
Hari itu. Kemarin, minggu langit sangat cerah, nyaman banget dilihat dan sinar mataharinya hangat dan membuat nyaman. Ini suasana lagi acara LDKO himpunan mahasiswa.

Via Putri tuh kelihatannya pendek, tapi jangan ketipu. Dari awal udah langsung nanjak, jarang dikasih bonus datar. Kalau rame weekend, kerasa kayak jalur silaturahmi pendaki, saling sapa sambil ngos-ngosan.
Pendakian Gunung Gede via Putri (Basecamp Sibolang)
Gunung Gede (2.958 mdpl) merupakan salah satu gunung paling populer di Jawa Barat, terutama karena aksesnya mudah, jalur yang jelas, dan panorama yang sangat memanjakan mata. Salah satu jalur favorit pendaki adalah via Gunung Putri (Sibolang), yang terkenal dengan tanjakan konstan dan cepat menuju Alun-Alun Surya Kencana, padang edelweiss luas di ketinggian sekitar 2.750 mdpl. Penginapan & Persiapan Awal di Basecamp Sibolang Setibanya di Basecamp Sibolang, pendaki bisa menginap di kamar sederhana dengan tarif sekitar Rp100.000 per orang, yang sudah include SIMAKSI. Penginapan ini biasanya menyediakan fasilitas dasar seperti kasur tipis, listrik, air panas (kadang bergantian), dan warung yang buka hingga malam. Sebaiknya tiba di basecamp sore hari, istirahat semalam, lalu mulai pendakian sekitar 05.00–06.00 pagi agar tiba di Surya Kencana menjelang siang. Kondisi Jalur & Estimasi Waktu Jalur via Putri dikenal menanjak sejak awal dan jarang memberi bonus landai. Meski begitu, treknya tergolong stabil dan jelas, dengan banyak akar pohon besar yang membantu pijakan. Di musim kemarau, jalur cukup kering, sedangkan di musim hujan tanahnya bisa licin dan becek. Total waktu tempuh ke Puncak Gede biasanya berkisar antara 5–7 jam (tanpa beban berat dan dengan pace menengah). Jika kamu berniat camp di Surya Kencana, waktu yang ideal untuk mendirikan tenda adalah sekitar pukul 11.00–12.00 siang. Urutan Pos Pendakian 1. Pos 1 – Legok Leunca (±1 jam) Awal jalur dari basecamp langsung menanjak melewati perkebunan warga, lalu masuk ke hutan pinus. Medan berupa tanah padat dengan akar besar. Di sini biasanya tubuh mulai beradaptasi dengan beban dan ritme tanjakan. 2. Pos 2 – Buntut Lutung (±1 jam) Medan semakin menanjak, vegetasi mulai rapat, dan suhu udara menurun. Beberapa titik licin saat lembap. Biasanya pendaki berhenti sebentar di sini untuk minum dan mengatur napas. 3. Pos 3 – Lawang Sekateng (±1 jam) Ciri khas pos ini adalah batu besar dan jalur mulai terbuka di beberapa bagian. Dari sini, kabut sering turun cepat. Di pagi hari, cahaya matahari masuk di sela-sela pohon, menciptakan suasana magis. 4. Pos 4 – Simpang Maleber (±45 menit–1 jam) Simpang ini jadi titik penting karena jalur mulai terasa berat. Terdapat beberapa tempat datar untuk istirahat, namun tidak direkomendasikan untuk mendirikan tenda karena areanya sempit. 5. Pos 5 – Alun-Alun Surya Kencana (±1–1,5 jam) Tiba-tiba vegetasi berubah drastis: pepohonan rapat berganti dengan padang rumput luas berhiaskan bunga edelweiss. Inilah Surya Kencana Timur, tempat favorit untuk mendirikan tenda. Dari sini, jika kamu ingin lanjut ke puncak, cukup membawa barang seperlunya (air minum, jaket, camilan). Camp bisa ditinggal karena jalur puncak berupa tanjakan berbatu yang cukup berat. Menuju Puncak Gunung Gede Dari Surya Kencana ke Puncak Gede ditempuh sekitar 1–1,5 jam. Jalur didominasi batu besar dan sedikit pasir, dengan kemiringan tajam. Sepanjang jalur, kamu bisa melihat kawah Gede dari sisi kanan, yang kadang mengeluarkan asap belerang tipis. Sesampainya di puncak, kamu akan disambut panorama luas: ke arah selatan terlihat Gunung Pangrango dan lembah Mandalawangi; ke timur, bentang padang Surya Kencana terlihat menakjubkan. Turun & Alternatif Jalur Kembali Jika kamu ingin variasi, dari Puncak Gede bisa turun lewat Kandang Badak → Air Panas → Cibodas, namun pastikan sudah mengurus izin lintas. Jika tidak, jalur kembali ke Putri akan lebih cepat — sekitar 3–4 jam turun ke basecamp. Tips Penting Bawa minimal 2–3 liter air per orang. Sumber air terakhir ada di area Surya Kencana (tidak selalu stabil). Hindari meninggalkan sampah atau merusak edelweiss. Gunakan trekking pole untuk membantu tanjakan konstan. Perhatikan cuaca; kabut tebal bisa turun cepat sejak siang hari. Jika melakukan tektok, idealnya mulai maksimal pukul 04.30 pagi dan sudah turun kembali sebelum sore. Penutup Pendakian Gunung Gede via Putri Basecamp Sibolang memberikan kombinasi sempurna antara tantangan dan keindahan. Jalurnya yang menanjak terus membuat jantung berdegup kencang, namun begitu sampai di Surya Kencana, semua rasa lelah akan terbayar tuntas. Dengan penginapan murah dan fasilitas lengkap di basecamp, jalur ini cocok bagi pendaki berpengalaman yang ingin perjalanan efisien namun tetap berkesan.

Muak banget ngelihat orang-orang sipaling pendekar berkumpul sambil ngerokok dan minum-minum lalu bilang, “Kami berbeda tapi tetap satu.” Dalam hati gua cuma mikir: perbedaan apanya? Semuanya belajar silat (ini beladiri). Ajarannya sama tentang kebaikan. Paling cuma beda pandangan falsafah. Lagian ini cuma latihan. Cuma organisasi. Yang bikin manusia, bukan Tuhan, bukan Nabi. Tapi fenomena yang ada sekarang, perguruan silat dijadikan tempat lari, seragam perguruan dijadikan simbol, gelar pendekar dijadikan title semu, keilmuan dan kebatinan dijadikan slogan tapi NOL besar dalam hal praktik. Kemuakan makin jadi ketika omongan besar tapi realitanya NOL besar. Latihan jeblok, sikap kependekaran pun minus. Terus apa yang mau diambil? Membanggakan diri sebagai sipaling pendekar karena sudah melewati fase latihan yang katanya berat dan seleksi ketat, padahal nyatanya bullshit. Latihan disuruh push-up 30 aja maling-maling, sembunyi-sembunyi akal-akalan curang. WTF, bahkan sesuatu yang dilakukan untuk dirinya sendiri aja dia curangi. Lalu setelah fase latihan yang sebenarnya sudah singkat dan dijalani dengan penuh akal-akalan itu selesai, bukannya menambal kekurangan semasa latihan, malah petantang-petenteng. Merasa sipaling jago. Merasa dipaling kuat. Merasa orang lain belum tentu kuat. Ironi. Perguruan silat diperlakukan seperti agama. Pindah perguruan berasa dianggap murtad. Ketahuan ikut latihan di perguruan lain dianggap pengkhianat. Budaya seperti itu yang mau dilestarikan? Sementara latihannya yang seharusnya jadi fokus utama malah dikesampingkan, cuma jadi formalitas. Akhirnya muncul karbitan: latihan sekian bulan sudah berani petantang-petenteng, karena perguruan sudah menganggap “pendekar”. Gua sama sekali nggak menyinggung perguruan tertentu. Ini murni fenomena yang gua lihat sekarang. Dan ironisnya, ketika dikasih tahu, dikritik, dan diberi masukan untuk perbaikan, banyak yang nggak mau terima. Padahal itu jelas berseberangan dengan sifat pendekar yang semestinya: rendah hati dan mau introspeksi. Banyak yang malah mencak-mencak, nggak terima, dan itu justru makin memperlihatkan sifat arogansi. Ini bukan persepsi gua. Ini realita, yang mirisnya banyak orang tutup mata pura-pura nggak tahu. Betul, semua kembali ke pribadi masing-masing. Tapi tetap saja, organisasi punya kewenangan untuk menyeleksi siapa yang layak dan siapa yang tidak. Jadi balik lagi ke pertanyaan inti: organisasi punya standar kelulusan dan benar-benar melaksanakan standar itu, atau tidak? Mendidik anggota, atau justru fokus menambah massa anggota dengan memaksakan kelulusan walau tidak sesuai standar kualitas? Gua nggak ngomongin ajaran. Semua ajaran perguruan gua pastikan baik. Tapi mari ngomong realita. Yang buruk dan melenceng dari ajaran seharusnya disadari dan diperbaiki, bukan ditutup-tutupi pura-pura nggak tahu. Kasihan para pendiri. Banyak yang beralasan, di perguruan itu nggak asal meluluskan, ada seleksi, tapi semua kembali ke masing-masing orangnya. Nah, justru di situ pertanyaannya muncul: kalau sudah diseleksi dan dinyatakan lulus, tapi realitanya nggak sejalan, berarti seleksinya gimana? Jujur aja sama diri sendiri. Akui aja kalau ada pendangkalan kualitas karena fokusnya sudah bergeser ke memperbanyak massa, sehingga seleksi cuma jadi formalitas. Itu realita. Mau kita bilang sejuta kali pun, kalau nggak mau jujur sama hati sendiri, selalu ada jawaban buat nolak kenyataan. Tujuan perguruan adalah mendidik. Kalau pada akhirnya dibilang, “Yang bagus akan terlihat bagus, yang buruk akan terlihat buruk,” lalu apa gunanya ada pelatihan dan seleksi?

Seperti layaknya interview, gua lanjut jelasin lagi dan lagi bahwa gua capable. Bahwa gua ngerti apa yang akan gua ajarkan. Bahwa ini bukan keputusan impulsif. Tapi lagi-lagi, pembicaraan dipotong dan ditarik ke arah yang sama. “Iya pak, dari CV bapak ini sebenernya udah sesuai banget. Tapi ya itu pak, gaji di sini kecil. Di pendidikan memang begini pak. Di semua sekolah juga sama. Jadi kalau mau banyak duit, jangan jadi guru. Jadi karyawan perusahaan aja. Sekolah kan nggak kaya perusahaan yang orientasinya uang.” Di titik ini, jujur aja, gua mulai ngerasa nyebelin. Bukan karena gaji kecilnya—itu sudah beres dari awal. Tapi karena kenapa topik yang sudah clear terus-terusan diulang? Di kepala gua cuma ada satu pikiran: kalau gua ngejar duit, ngapain juga gua ke sini? Tapi ya gua tetap jaga sikap. Tetap ramah. Tetap profesional. Sampai akhirnya gua nanya satu hal yang menurut gua paling krusial. Satu-satunya pertanyaan penting yang gua ajukan sepanjang interview itu. “Di sini kita punya lab komputer nggak, pak?” Gua tekankan kenapa gua nanya itu. Karena ini bukan fasilitas tambahan. Ini kebutuhan primer. Mata pelajarannya coding. Tanpa lab komputer, mau ngapain? Mau ngajarin apa? Teori doang? Jawabannya singkat. Pendek. Dingin. “Iya, kita punya lab di atas.” Habis itu? Topiknya balik lagi ke gaji guru. Di titik itu gua udah capek secara mental. Bukan capek debat, tapi capek karena arah pembicaraannya jelas. Fokusnya bukan pada bagaimana pembelajaran dijalankan, tapi bagaimana guru menyesuaikan diri agar sistem tetap tenang dan tidak merepotkan. Dan mungkin, di situlah benih-benih keanehan itu mulai terasa. Bukan karena sekolahnya jahat. Bukan karena orangnya berniat buruk. Tapi karena sejak awal, yang mereka bicarakan bukan pendidikan, melainkan pengelolaan guru. Bukan pembelajaran, tapi ketertiban. Bukan kualitas, tapi risiko. Dan saat itu gua belum sepenuhnya sadar, tapi sekarang gua paham: di situlah awal dari semua konflik nilai yang muncul belakangan.

Kalau soal uang atau gaji guru, sebetulnya dari awal gua sudah aware. Bahkan bisa dibilang terlalu sadar. Gua punya banyak teman yang berprofesi sebagai guru, dan jujur aja, sering kali ketika denger cerita mereka, refleksi pertama gua bukan kagum, tapi heran. Heran yang jujur. “Ko bisa sih?” “Ko mau sih?” Bukan dalam arti merendahkan, tapi lebih ke rasa tidak habis pikir. Dari cerita tentang beban kerja, tuntutan moral, ekspektasi sosial, sampai urusan gaji yang—ya kita sama-sama tau—kadang bikin geleng kepala. Sampai pada titik gua sering mikir, setengah bercanda setengah serius: amit-amit jangan sampai terjerumus ke sana. Dan anehnya, semua pandangan itu buyar begitu saja ketika suatu hari gua lihat postingan lowongan kerja di sekolah: guru mata pelajaran coding/pemrograman. Niat gua waktu itu sebenarnya sederhana. Bahkan kalau mau jujur, agak egois juga: “Gua mau supaya skill gua nggak tumpul.” Karena gua tau, salah satu cara paling efektif untuk menjaga pemahaman adalah dengan mengajar. Ketika lo mengajar, lo dipaksa ngerti, bukan sekadar bisa. Lo dipaksa menjelaskan, bukan cuma mengerjakan. Bonusnya, ya gua anggap sebagai amal buat akhirat. Dua niat ini ketemu di satu titik. Dan dari situlah keputusan itu lahir. CV gua kirim. Satu minggu kemudian, masuk WA undangan interview. Besoknya gua datang ke sekolah. Interview-nya… jujur aja, kurang mirip interview pada umumnya. Lebih mirip ngobrol santai, bahkan terlalu santai. Kalimat pembuka yang gua terima bukan pertanyaan kompetensi, tapi: “Gimana ceritanya ko bisa ngelamar jadi guru? Ko bisa tau ada lowongan guru dari siapa?” Nada bicaranya akrab, seperti ngobrol sama teman lama. Gua jawab jujur: tau dari teman yang posting di story WhatsApp. Lalu gua lanjut jelasin latar belakang gua: S1 Teknologi Informasi dari UNIPI, kerja di startup kecil di Kota Tangerang, pernah ikut beberapa bootcamp pemrograman, dan secara kapasitas gua yakin bisa mengajar mata pelajaran pemrograman, termasuk menyusun silabus dan alur pembelajaran. Belum selesai gua cerita, dia motong. Topiknya langsung loncat ke gaji. “Tapi gini pak, bapak mungkin udah pernah denger kalau gaji guru itu kecil. Itu beneran pak. Bahkan kadang kalau dari dinas turunnya telat, gaji juga ikutan telat, karena kita ngandelin dari dinas.” Di kepala gua sempat nyempil pikiran: ini kan sekolah swasta, masa sepenuhnya ngandelin dinas? Tapi yaudahlah, gua iyain aja. Gua jawab tenang, bahwa sebelum ke sini gua sudah tau realitas gaji guru. Banyak teman gua guru, gua sering ngobrol soal itu. Dan gua jelasin dengan jelas: gaji bukan prioritas gua. Ketika gua memutuskan masuk dunia pendidikan dan jadi guru, artinya gua sudah siap dengan konsekuensi, termasuk bayaran kecil.

Kita pernah melihat bagaimana kalkulator dulu dianggap sebagai pengganti manusia dalam berhitung. Seolah-olah kemampuan hitung manusia akan mati. Namun kenyataannya tidak demikian. Kalkulator tidak menggantikan manusia. Ia hanya menjadi alat bantu untuk perhitungan yang repetitif dan tidak membutuhkan kreativitas. Manusia tetap yang merumuskan persoalan. Manusia tetap yang menentukan logika. Kalkulator hanya digunakan pada bagian yang memang lebih cocok dihitung dengan kalkulator. Kenapa disebut “lebih cocok”? Karena dalam dunia nyata, perhitungan tidak sesederhana tambah, kurang, kali, bagi. Ada perhitungan sederhana seperti 5 + 5 yang justru tidak efisien jika harus selalu menggunakan kalkulator. Ada perhitungan menengah yang jauh lebih cepat jika memakai kalkulator daripada coret-coretan di kertas. Ada pula perhitungan kompleks dengan rumus tingkat tinggi yang tetap membutuhkan pemahaman manusia, bahkan untuk menentukan bagian mana yang boleh dan tidak boleh diserahkan ke kalkulator. Praktisi matematika paham betul bahwa kesalahan kecil di awal bisa membuat hasil akhir melenceng jauh. Di situ manusia tetap memegang kendali. Dulu penjual sempoa hidup dari menjual sempoa dan buku panduannya. Laris manis. Namun setelah kalkulator muncul, sempoa perlahan menghilang. Lalu kalkulator fisik pun sebagian tergeser oleh kalkulator di HP. Lingkupnya mengecil. Bukan hilang sepenuhnya, tetapi menyempit. Polanya jelas. Teknologi tidak selalu mematikan fungsi, tetapi menggeser peran dan mempersempit ruang lama. Lalu kita masuk ke era ojol. Ketika ojek online muncul, ada dua kubu besar. Satu kubu yakin bahwa ini akan menjadi revolusi transportasi. Kubu lain mengatakan ini hanya mainan anak muda yang sok canggih dan tidak akan bertahan lama. Kenyataan berkata lain. Boom. Ojol menjadi revolusi. Yang sadar dan mau beradaptasi bertahan. Yang keras kepala dengan mental lama banyak yang tumbang lebih dulu. Dulu penghasilan ojek konvensional ditentukan oleh pengalaman, jam terbang, kemampuan membaca situasi, dan terutama negosiasi. Negosiasi adalah skill utama. Mereka membaca jarak, waktu, kondisi malam, jumlah ojek yang tersedia, tujuan pelanggan, barang bawaan, dan banyak variabel lain. Namun ketika ojol hadir, skill utama itu dipukul telak. Harga menjadi pasti. Transparan. Tanpa drama. Tanpa tawar-menawar. Pelanggan punya pembanding. Bahkan sebelum naik ojek konvensional, mereka sudah tahu harga wajar lewat aplikasi. Jika harga terlalu tinggi, pelanggan tinggal berkata, “Ya sudah, pakai ojol saja.” Dan pelanggan tidak punya masalah melakukan itu. Tinggal pesan, ojol datang. Ojek konvensional kehilangan keunggulan lamanya dengan begitu mudah. Sekarang bukan hanya ojek melawan ojol. Bahkan sesama ojol pun bersaing. Polanya lagi-lagi jelas. Dunia tidak mengikuti pelaku lama. Pelaku lamalah yang harus mengikuti dunia. Adaptasi bukan pilihan, tapi kebutuhan. Ojek yang bertahan bukan lagi yang paling jago negosiasi, tapi yang paling rapi, paling ramah, paling profesional. Skill bergeser. Arena bergeser. Sekarang kita lihat fenomena AI. Keramaiannya mirip sekali dengan awal kemunculan ojol. Dulu orang bilang, “Ojol tidak akan bertahan.” Sekarang orang bilang, “Programmer akan mati.” Mari kita buka mata. Apakah ojol mematikan ojek? Tidak. Justru jasa ojek semakin dibutuhkan. Bahkan berkembang menjadi antar makanan, belanja, kirim barang, dan budaya baru terbentuk. Ekosistem hidup. Bengkel ramai. Warung jadi basecamp. Pekerjaan baru muncul. Bukan karena orang tidak bisa pergi sendiri. Motor makin murah. Kredit ringan. Tapi kenyamanan dan efisiensi menciptakan kebiasaan baru. Budaya baru lahir. Sekarang pertanyaannya: apakah AI akan mematikan programmer? Jawabannya: ya, jika programmer tetap keras kepala dengan idealisme lama. “Orang awam bisa pakai AI tapi tidak bisa bikin aplikasi sempurna.” “Orang awam tidak paham best practice.” “Tidak paham security.” “Tidak punya fundamental.” Mari kita jujur. Apakah user butuh aplikasi sempurna? Tidak. User butuh aplikasi yang menyelesaikan masalahnya. Aplikasi dengan arsitektur paling canggih dan security paling ideal tapi tidak menyelesaikan masalah bisnis hanyalah pajangan. Sebaliknya, aplikasi sederhana yang menyelesaikan masalah bisa menjadi sangat bernilai. Di sini kita mulai melihat kemiripan antara ojek konvensional dulu dan sebagian programmer sekarang. Sama-sama merasa superior pada skill lama. Faktanya, orang awam sekarang bisa membangun aplikasi dengan AI. Fundamental bisa dipelajari sambil jalan. Prompt sambil bangun. Tidak seideal jalur klasik, tetapi cukup untuk membuat sesuatu berjalan. Jangan bantah dulu. Jika orang awam + AI bisa membuat sesuatu yang bekerja, maka arena sudah berubah. Kompetisi bukan lagi programmer vs orang awam. Kompetisinya adalah: Orang Awam + AI melawan Programmer + AI Kalau programmer melawan AI sendirian, tentu kalah. Kalau orang awam menggunakan AI sebagai senjata, programmer juga harus menggunakan AI sebagai senjata. Minimal seri. Namun programmer punya keunggulan lain: arsitektur, integrasi, troubleshooting, pemahaman sistem nyata. Dunia tidak hanya virtual. Integrasi IoT, perangkat fisik, sistem nyata di lapangan tidak bisa sekadar diprompt. Orang awam bisa tahu apa itu API. Bisa minta AI buatkan. Tapi ketika harus mengintegrasikan perangkat, debugging dunia nyata, menangani edge case fisik, itu arena yang berbeda. Apakah orang awam bisa belajar? Tentu bisa. Tapi jika sudah belajar sedalam itu, dia bukan lagi orang awam. Dulu bikin landing page bisa dapat jutaan. Sekarang satu prompt jadi. Dunia web yang dulu luas kini menyempit. Namun menyempitnya satu sisi hampir selalu diikuti lahirnya sisi baru yang lebih besar. Sejarah selalu berulang. Subjeknya saja yang berbeda. Yang mati bukan profesinya. Yang mati adalah mentalitas yang menolak berubah. Adaptasi bukan slogan. Adaptasi adalah keputusan untuk membuka mata, menerima realita, dan mengubah posisi kita dalam arena yang baru. Kalau tidak, sejarah akan mengulang dirinya. Dan kita tahu siapa yang biasanya kalah.

Ada satu perubahan menarik dalam cara manusia memaknai kecerdasan. Dahulu, kemampuan diidentikkan dengan proses: bagaimana seseorang berpikir, merumuskan masalah, lalu mengambil keputusan. Hari ini, ukuran itu perlahan bergeser. Yang dinilai bukan lagi bagaimana sesuatu dihasilkan, melainkan apakah ia bisa dihasilkan. Perubahan ini tampak wajar. Alat semakin canggih, akses semakin mudah, dan hasil bisa diperoleh dalam hitungan detik. Namun justru di titik inilah muncul paradoks yang jarang disadari: ketika kemampuan eksternal meningkat drastis, kemampuan internal sering kali tidak ikut tumbuh bahkan menyusut. Tidak sedikit orang yang merasa menguasai banyak hal, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah mereka hanya mengetahui tombol mana yang harus ditekan. Perasaan mampu itu muncul bukan karena pemahaman, melainkan karena hasil tetap bisa keluar meski tanpa berpikir terlalu jauh. Di permukaan, semuanya tampak berfungsi. Di dalam, tidak ada yang benar-benar diproses. Di titik tertentu, alat tidak lagi menjadi perpanjangan pikiran, tetapi pengganti pikiran itu sendiri. Masalahnya bukan pada penggunaan teknologi, melainkan pada relasi dengannya. Ketika seseorang berhenti memverifikasi, berhenti meragukan, dan berhenti bertanya karena merasa “semua sudah bisa”, maka otak tidak lagi bekerja sebagai pengambil keputusan, melainkan sekadar operator. Yang berpikir bukan lagi manusia, tetapi sistem di luar dirinya. Ironisnya, kondisi ini sering disertai dengan rasa percaya diri yang meningkat. Semakin sedikit proses yang dilakukan, semakin besar ilusi penguasaan. Ketika hambatan berpikir menghilang, yang tersisa hanyalah kesan bahwa semua hal berada dalam jangkauan. Padahal yang berubah bukan kapasitas diri, melainkan jarak antara keinginan dan hasil. Di sinilah muncul fenomena yang lebih halus namun lebih berbahaya: rasa superioritas. Ketika seseorang merasa mampu melakukan banyak hal tanpa usaha kognitif yang sepadan, ia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang masih bergulat dengan proses. Perbedaan ini sering disalahartikan sebagai perbedaan kecerdasan, bukan perbedaan kedalaman. Akibatnya, energi lebih banyak dihabiskan untuk merendahkan orang lain daripada memperdalam pemahaman diri sendiri. Padahal, kemampuan sejati justru terlihat saat alat tidak lagi membantu. Dunia nyata jarang rapi, jarang sesuai konteks, dan jarang menyediakan jawaban siap pakai. Ia penuh ambiguitas, kompromi, dan konsekuensi yang tidak tertulis. Di sinilah pemahaman diuji. Bukan pada saat semuanya berjalan mulus, tetapi saat sesuatu tidak relevan, tidak akurat, atau tidak bisa langsung digunakan. Ketergantungan berlebihan membuat banyak orang kehilangan kepekaan ini. Kesalahan yang muncul dianggap sebagai gangguan kecil, bukan sinyal bahwa pemahaman mereka tidak pernah benar-benar terbentuk. Karena selama hasil masih bisa dihasilkan, proses dianggap tidak penting. Padahal, membuang proses berarti membuang kesempatan belajar. Lebih jauh lagi, ada risiko yang jarang dibicarakan: ketika pikiran tidak lagi dilatih untuk menilai, ia juga kehilangan kemampuan untuk menyadari keterbatasannya sendiri. Seseorang bisa merasa berada di atas orang lain, sementara tanpa disadari, fondasi pengetahuannya jauh lebih rapuh daripada yang ia kira. Dalam kondisi seperti ini, kritik terasa mengganggu, diskusi terasa tidak perlu, dan refleksi terasa membuang waktu. Yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa kecepatan adalah kecerdasan, dan hasil adalah bukti mutlak kemampuan. Mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi seberapa banyak hal yang bisa dilakukan, tetapi: siapa yang sebenarnya berpikir saat hal itu dilakukan. Karena ada perbedaan besar antara menggunakan alat untuk memperluas pikiran, dan menggantungkan pikiran pada alat itu sendiri. Perbedaan yang hanya akan disadari oleh mereka yang masih sesekali berhenti, meragukan, dan berpikir bahkan ketika hasil bisa didapat tanpa itu.

Dalam teologi Islam klasik, tanda-tanda kiamat besar (Asy-Syuruth al-Kubra) digambarkan dengan sangat jelas. Salah satu yang paling mengguncang adalah hadis Nabi SAW: Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari sebelah barat. Selama berabad-abad, umat Islam memahami nubuwat ini secara harfiah sebagai peristiwa astronomi luar biasa di mana hukum alam akan berbalik. Namun, di era modern, para pemikir Islam mulai menggali makna sosiologis dan filosofis yang lebih dalam: Apakah "Matahari Barat" itu sebenarnya sudah terbit hari ini? 1. Pergeseran Cahaya Peradaban Abad ke-19 dan ke-20 menjadi masa terkelam bagi umat Islam. Runtuhnya kekhalifahan dan masifnya kolonialisme memicu renungan mendalam dari tokoh pembaru seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida. Mereka melihat sebuah kontras yang tajam: umat Islam mundur, sementara Barat maju pesat. Mereka menyadari bahwa "Matahari"—yang merupakan simbol ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan peradaban—yang dulu bersinar terang dari Timur (Baghdad dan Cordoba), kini telah berpindah. Cahaya itu kini terbit dari Barat (Eropa dan Amerika). Inilah yang disebut sebagai Kiamat Peradaban. 2. Kiblat yang Bergeser Pemikir Aljazair, Malek Bennabi, melihat fenomena ini sebagai siklus sejarah. Dulu, "Cahaya" petunjuk datang dari Timur melalui para Nabi. Namun sekarang, dunia seolah berkiblat ke Barat. Hukum, sistem pendidikan, gaya hidup, hingga cara berpikir kita semuanya disinari oleh "Cahaya Barat". Secara metaforis, ketika umat Islam mencari solusi masalahnya ke Barat dan bukan lagi ke Al-Qur'an, maka "Matahari Petunjuk" mereka sebenarnya telah terbit dari Barat. 3. "The False Sunrise": Cahaya yang Menipu Tokoh eskatologi modern seperti Imran N. Hosein menyebut fenomena ini sebagai The False Sunrise (Fajar Palsu). Matahari Barat ini memang membawa kemajuan teknologi dan jargon Hak Asasi Manusia (HAM), namun di dalamnya tersembunyi kegelapan spiritual berupa sekularisme dan materialisme. Sistem ini melakukan inversi (pembalikan) nilai-nilai dasar manusia (fitrah): Pembalikan Peran: Atas nama feminisme radikal, peran gender alami sering kali dikacaukan. Normalisasi Riba: Sistem ekonomi global (Kapitalisme) memaksa setiap orang terlibat dalam riba. Pemisahan Tuhan: Konsep sekularisme ekstrem yang memisahkan Tuhan dari urusan Negara dan publik. 4. Ketika Pintu Tobat Menjadi "Tertutup" Secara teologis, saat matahari terbit dari barat, pintu tobat tertutup. Jika dimaknai secara sosiologis melalui kacamata Max Weber tentang Iron Cage (Sangkar Besi), hal ini sangat masuk akal. Dalam sistem modern yang sepenuhnya sekuler, konsep "Dosa" perlahan dihapus. Mabuk dan narkoba menjadi lifestyle, riba dianggap sebagai profit yang sah. Ketika dosa dinormalisasi dan dianggap sebagai bagian dari kemajuan, manusia tidak lagi merasa perlu bertobat. Pintu tobat "tertutup" bukan karena Tuhan menolak, tapi karena manusia sudah tidak sadar lagi bahwa dirinya sedang berdosa. 5. Ujian Keimanan Terbesar Ironinya, bahkan untuk beribadah pun kita bergantung pada teknologi Barat. Listrik, internet untuk dakwah, satelit untuk menentukan waktu salat, hingga ilmu pengetahuan teknis, semuanya datang dari sana. Kita hidup di bawah sinar "Matahari Barat" setiap detik. Pertanyaan besarnya: Bisakah kita tetap menjadi hamba Allah yang murni di tengah sistem yang secara sistematis didesain untuk melupakan Allah? Penutup: Menjaga Cahaya di Dalam Hati Mungkin matahari fisik memang belum terbit dari Barat. Namun secara peradaban, kita sudah hidup di "Akhir Zaman" tersebut. Tugas kita saat ini bukan sekadar menunggu kiamat kosmik terjadi, melainkan menjaga agar Matahari Iman di dalam hati tidak padam oleh silau gemerlap duniawi yang menyesatkan.

Mari jujur menjawab satu pertanyaan sederhana: Masihkah ada alasan kuat mempertahankan mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah? Apakah hanya supaya jadwal pelajaran penuh dan jam mengajar guru tetap aman? Ataukah sekadar simbol formal agar tampak menjunjung nasionalisme? Sebab jika tujuannya membentuk kemampuan berbahasa yang baik dan benar, tampaknya tujuan itu sudah lama gagal. Sejak bangku SD, siswa dipaksa menghafal detail: mana kata baku, mana tidak baku. Mereka dipusingkan oleh perbedaan “apotek” dan “apotik”, “antre” dan “antri”. Ironisnya, semua itu menjadi tidak berarti ketika pada tingkat kebijakan tertinggi pun aturan bahasa diperlakukan seolah tak penting. Kaidah berubah menjadi sekadar pilihan, bukan kewajiban. Bagi yang mengikuti tulisan saya sebelumnya, pasti paham ke mana arah kritik ini. Benar. Saya masih menyoroti frasa “RUKUN SAMA TEMAN” dalam Ikrar Pelajar Indonesia. “Sama teman”? Serius? Dalam tata bahasa Indonesia yang baku, kata sama untuk relasi antarmanusia dalam konteks resmi jelas tidak tepat. Ungkapan seperti itu lebih cocok terdengar di obrolan santai, bukan dalam teks resmi yang dibacakan saat upacara. Seharusnya: rukun dengan teman, rukun antarteman, atau rukun sesama teman. Lalu mengapa yang dipilih justru rukun sama teman? Jika dokumen resmi negara saja sudah menggunakan bahasa ala caption media sosial, mengapa siswa masih harus disanksi ketika keliru menulis imbuhan? Ini bentuk pemborosan kolektif. Murid diajarkan ketelitian berbahasa, tetapi contoh nyata yang mereka lihat justru memperlihatkan ketidakseriusan dalam memilih diksi. Daripada membuat siswa frustrasi mempelajari teori yang tidak dihormati dalam praktik, mungkin memang lebih logis menghapus pelajaran Bahasa Indonesia. Bagaimanapun, acara resmi tetap berjalan meski bahasanya santai. Selama bisa bicara dan menulis, asal dipahami, siapa lagi yang peduli aturan bahasa—bukan begitu? Toh, untuk apa PUEBI jika frasa “rukun sama teman” dianggap cukup ampuh menyelesaikan seluruh persoalan karakter peserta didik hari ini. https://www.facebook.com/100000254247628/posts/26125162817075503/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v
