Hari itu. Kemarin, minggu langit sangat cerah, nyaman banget dilihat dan sinar mataharinya hangat dan membuat nyaman. Ini suasana lagi acara LDKO himpunan mahasiswa.

Gunung Gede (2.958 mdpl) merupakan salah satu gunung paling populer di Jawa Barat, terutama karena aksesnya mudah, jalur yang jelas, dan panorama yang sangat memanjakan mata. Salah satu jalur favorit pendaki adalah via Gunung Putri (Sibolang), yang terkenal dengan tanjakan konstan dan cepat menuju Alun-Alun Surya Kencana, padang edelweiss luas di ketinggian sekitar 2.750 mdpl. Penginapan & Persiapan Awal di Basecamp Sibolang Setibanya di Basecamp Sibolang, pendaki bisa menginap di kamar sederhana dengan tarif sekitar Rp100.000 per orang, yang sudah include SIMAKSI. Penginapan ini biasanya menyediakan fasilitas dasar seperti kasur tipis, listrik, air panas (kadang bergantian), dan warung yang buka hingga malam. Sebaiknya tiba di basecamp sore hari, istirahat semalam, lalu mulai pendakian sekitar 05.00–06.00 pagi agar tiba di Surya Kencana menjelang siang. Kondisi Jalur & Estimasi Waktu Jalur via Putri dikenal menanjak sejak awal dan jarang memberi bonus landai. Meski begitu, treknya tergolong stabil dan jelas, dengan banyak akar pohon besar yang membantu pijakan. Di musim kemarau, jalur cukup kering, sedangkan di musim hujan tanahnya bisa licin dan becek. Total waktu tempuh ke Puncak Gede biasanya berkisar antara 5–7 jam (tanpa beban berat dan dengan pace menengah). Jika kamu berniat camp di Surya Kencana, waktu yang ideal untuk mendirikan tenda adalah sekitar pukul 11.00–12.00 siang. Urutan Pos Pendakian 1. Pos 1 – Legok Leunca (±1 jam) Awal jalur dari basecamp langsung menanjak melewati perkebunan warga, lalu masuk ke hutan pinus. Medan berupa tanah padat dengan akar besar. Di sini biasanya tubuh mulai beradaptasi dengan beban dan ritme tanjakan. 2. Pos 2 – Buntut Lutung (±1 jam) Medan semakin menanjak, vegetasi mulai rapat, dan suhu udara menurun. Beberapa titik licin saat lembap. Biasanya pendaki berhenti sebentar di sini untuk minum dan mengatur napas. 3. Pos 3 – Lawang Sekateng (±1 jam) Ciri khas pos ini adalah batu besar dan jalur mulai terbuka di beberapa bagian. Dari sini, kabut sering turun cepat. Di pagi hari, cahaya matahari masuk di sela-sela pohon, menciptakan suasana magis. 4. Pos 4 – Simpang Maleber (±45 menit–1 jam) Simpang ini jadi titik penting karena jalur mulai terasa berat. Terdapat beberapa tempat datar untuk istirahat, namun tidak direkomendasikan untuk mendirikan tenda karena areanya sempit. 5. Pos 5 – Alun-Alun Surya Kencana (±1–1,5 jam) Tiba-tiba vegetasi berubah drastis: pepohonan rapat berganti dengan padang rumput luas berhiaskan bunga edelweiss. Inilah Surya Kencana Timur, tempat favorit untuk mendirikan tenda. Dari sini, jika kamu ingin lanjut ke puncak, cukup membawa barang seperlunya (air minum, jaket, camilan). Camp bisa ditinggal karena jalur puncak berupa tanjakan berbatu yang cukup berat. Menuju Puncak Gunung Gede Dari Surya Kencana ke Puncak Gede ditempuh sekitar 1–1,5 jam. Jalur didominasi batu besar dan sedikit pasir, dengan kemiringan tajam. Sepanjang jalur, kamu bisa melihat kawah Gede dari sisi kanan, yang kadang mengeluarkan asap belerang tipis. Sesampainya di puncak, kamu akan disambut panorama luas: ke arah selatan terlihat Gunung Pangrango dan lembah Mandalawangi; ke timur, bentang padang Surya Kencana terlihat menakjubkan. Turun & Alternatif Jalur Kembali Jika kamu ingin variasi, dari Puncak Gede bisa turun lewat Kandang Badak → Air Panas → Cibodas, namun pastikan sudah mengurus izin lintas. Jika tidak, jalur kembali ke Putri akan lebih cepat — sekitar 3–4 jam turun ke basecamp. Tips Penting Bawa minimal 2–3 liter air per orang. Sumber air terakhir ada di area Surya Kencana (tidak selalu stabil). Hindari meninggalkan sampah atau merusak edelweiss. Gunakan trekking pole untuk membantu tanjakan konstan. Perhatikan cuaca; kabut tebal bisa turun cepat sejak siang hari. Jika melakukan tektok, idealnya mulai maksimal pukul 04.30 pagi dan sudah turun kembali sebelum sore. Penutup Pendakian Gunung Gede via Putri Basecamp Sibolang memberikan kombinasi sempurna antara tantangan dan keindahan. Jalurnya yang menanjak terus membuat jantung berdegup kencang, namun begitu sampai di Surya Kencana, semua rasa lelah akan terbayar tuntas. Dengan penginapan murah dan fasilitas lengkap di basecamp, jalur ini cocok bagi pendaki berpengalaman yang ingin perjalanan efisien namun tetap berkesan.

Belakangan ini beredar informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa jalur pendakian Gunung Gede Pangrango kembali dibuka setelah sebelumnya ditutup sejak 13 Oktober 2025. Namun, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) membantah kabar tersebut. “Informasi itu tidak benar, kami belum membuka kembali aktivitas pendakian di kawasan TNGGP,” tegas Humas TNGGP, Agus Deni, pada Rabu, 5 November 2025. Deni menjelaskan, hingga saat ini pihak Balai belum menentukan kapan jalur pendakian akan kembali dibuka. “Informasi mengenai pembukaan kembali pendakian akan kami sampaikan melalui media sosial resmi Balai Besar TNGGP,” jelasnya. Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya para pendaki dan pencinta alam, agar bersabar menunggu keputusan resmi pembukaan jalur pendakian. Saat ini, Balai Besar TNGGP masih berfokus melakukan pembenahan tata kelola pendakian di kawasan Gunung Gede Pangrango. “Salah satunya pembersihan sampah,” tukas Deni. Sebelumnya, melalui Surat Edaran Nomor 374 Tahun 2025 yang ditandatangani Kepala Balai Besar TNGGP, Arief Mahmud, pihaknya menetapkan penutupan sementara aktivitas pendakian mulai 13 Oktober 2025 hingga pemberitahuan lebih lanjut. “Sehubungan dengan akan diselenggarakannya pemulihan ekosistem kawasan TNGGP, penyempurnaan tata kelola sistem pendakian dan pengelolaan sampah pendakian, maka perlu ditetapkan Surat Edaran Kepala Balai Besar TNGGP tentang penutupan kegiatan pendakian di TNGGP,” jelas Arief dalam surat tersebut. https://radarbogor.jawapos.com/kabupaten-bogor/2476795030/jalur-pendakian-gunung-gede-pangrango-dikabarkan-dibuka-balai-besar-tnggp-sebut-hoaks

Menurut keyakinan saya, Indonesia memang sepertinya disusupi suatu agenda tersembunyi. Kita gak bisa terus-terusan naif pura-pura gak tau. Coba kita merenung sebentar, sebentar saja. Kita semua tau, siapapun dari kalangan manapun, bahwa "Pendidikan adalah pondasi suatu bangsa", artinya pendidikan memiliki peranan begitu penting. Ada agenda yang sengaja men-set agar bangsa Indonesia selalu bodoh. Bagaimana jalannya? Ada banyak yang bisa kita lihat dengan jelas dan sangat kasat mata. 1. Guru dibuat agar selalu tertindas Mungkin kita pernah melihat atau setidaknya mendengar "katanya" gaji guru itu 300 ribu/bulan dan dibayar bisa terlambat 1-2 bulan. Fakta pahitnya, itu bukan "katanya" tapi "faktanya". Yes, itu fakta yang bukan hiperbola. Gila lu, 300 ribu/bulan bahkan gak jarang dibayar per 3 bulan. Ini bukan bercanda. Mereka itu bekerja bukan main-main. Mereka ada absen masuk dan absen pulang, ada minimal waktu bekerja, tidak semaunya masuk dan pulang (ada aturan yang harus dipatuhi). Bahkan gak jarang kerjaan sampai dibawa ke rumah. Bukan karena kerjaan mereka lambat, tapi karena kerjaan yang overload sehingga secara gak langsung memaksa unpaid overtime. Tugas anak-anak murid yang dikerjakan di buku harus diperiksa satu per satu. Kita hitung kasar: 1 kelas 35 siswa dikali 1 tingkat 8 kelas = 280 anak. Artinya ada 280 buku yang harus dikoreksi satu per satu. Bandingkan dengan kerjaan buruh yang 8 jam kerja selesai, pulang, beres, tidak ada kerjaan di luar jam. Gaji? UMR minimal. Overtime? Dibayar. Gaji tahun depan cuma naik sedikit? Demo besar-besaran. Lihat guru! Tiap tahun segitu-segitu aja. Bro!!! Ini gila, bukan bercanda. 2. Makan Bergizi Gratis (MBG) Awal tahun 2025 ada program namanya Makan Bergizi Gratis (MBG). Kita harus buka mata, siapa yang mengurus kegiatan di sana? Orang-orang yang dibayar 2-5 juta/bulan. Kalau kita hitung harian, berkisar 100-200 ribu/hari. Artinya, gaji guru 1 bulan setara dengan 2-3 hari kerja orang di MBG. Oh, gak berhenti di situ. Mereka bukan pekerja, mereka RELAWAN. Waw banget kan? Kalau yang dibayar 2-5 juta/bulan dikatakan relawan, apa kabar guru? Budak kah? Cukup di sana? Belum! Guru wajib Sarjana, sedangkan relawan MBG tidak mesti. *ketawamiris. No offense sama relawan (pekerja) MBG, tapi kita lihat dari sisi lain. Ini hanya mempertegas bahwa pemerintah sebetulnya bukan gak punya duit, tapi memang kembali lagi ke poin di atas: bahwa sektor pendidikan sengaja di-set agar hancur. Alih-alih uang yang sebegitu besar disalurkan ke yang urgent, malah lari ke sana. Di akhir kalimat, saya mau mengatakan: kita seharusnya mulai membuka mata dan sadar bahwa ini adalah kejahatan. Jangan terus "maklum", apalagi mengatakan, "Ya siapa yang nyuruh lu jadi guru, udah tau gajinya kecil." Itu kalimat yang sangat jahat terhadap seseorang yang peduli terhadap bangsanya. Kalau semua punya prinsip seperti itu, minggu depan negara langsung bubar.

Hari ini, 31 Desember 2025. Sebuah titik hening di antara dua waktu: yang telah lewat dan yang akan datang. Tahun baru selalu datang dengan cara yang sama—diam-diam, tanpa mengetuk—namun maknanya bergantung sepenuhnya pada bagaimana kita menoleh ke belakang. Satu tahun terakhir bukan sekadar kumpulan hari. Ia adalah rangkaian keputusan kecil, kegagalan yang sempat disangkal, keberhasilan yang sering disepelekan, dan proses panjang yang jarang terlihat oleh orang lain. Banyak rencana mungkin tidak berjalan sesuai harapan. Ada target yang tertunda, hubungan yang berubah, arah hidup yang sempat kabur. Namun justru di sanalah kita belajar: bahwa bertahan sering kali lebih penting daripada menang. Tahun ini mengajarkan bahwa konsistensi lebih berharga daripada motivasi sesaat. Bahwa diam bukan selalu menyerah, dan melambat bukan berarti mundur. Kita belajar mengenali batas—batas tenaga, batas emosi, batas ambisi—dan dari sana, belajar bersikap lebih jujur pada diri sendiri. Ada hal-hal yang harus dilepaskan. Bukan karena kalah, tetapi karena tidak semua beban perlu dibawa ke tahun berikutnya. Ada pula hal-hal yang patut disimpan: kebiasaan baik, pelajaran pahit, dan keberanian untuk memulai meski belum sepenuhnya siap. Besok, kalender akan berganti. Namun hidup tidak di-reset. Kita tetap orang yang sama—dengan pengalaman yang lebih kaya dan kesadaran yang, semoga, lebih dewasa. Tahun baru bukan tentang menjadi versi yang sepenuhnya baru, melainkan versi yang lebih selaras dengan apa yang benar-benar penting. Di ambang pergantian ini, refleksi adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri: mengakui sejauh apa kita sudah melangkah, tanpa menghakimi betapa lambat atau berlikunya jalan yang ditempuh. Selamat datang tahun baru. Datanglah tanpa janji berlebihan. Cukup beri ruang untuk bertumbuh, hari demi hari.

Keren sih
Langit biru
Hari itu. Kemarin, minggu langit sangat cerah, nyaman banget dilihat dan sinar mataharinya hangat dan membuat nyaman. Ini suasana lagi acara LDKO himpunan mahasiswa.

Via Putri tuh kelihatannya pendek, tapi jangan ketipu. Dari awal udah langsung nanjak, jarang dikasih bonus datar. Kalau rame weekend, kerasa kayak jalur silaturahmi pendaki, saling sapa sambil ngos-ngosan.
Pendakian Gunung Gede via Putri (Basecamp Sibolang)
Gunung Gede (2.958 mdpl) merupakan salah satu gunung paling populer di Jawa Barat, terutama karena aksesnya mudah, jalur yang jelas, dan panorama yang sangat memanjakan mata. Salah satu jalur favorit pendaki adalah via Gunung Putri (Sibolang), yang terkenal dengan tanjakan konstan dan cepat menuju Alun-Alun Surya Kencana, padang edelweiss luas di ketinggian sekitar 2.750 mdpl. Penginapan & Persiapan Awal di Basecamp Sibolang Setibanya di Basecamp Sibolang, pendaki bisa menginap di kamar sederhana dengan tarif sekitar Rp100.000 per orang, yang sudah include SIMAKSI. Penginapan ini biasanya menyediakan fasilitas dasar seperti kasur tipis, listrik, air panas (kadang bergantian), dan warung yang buka hingga malam. Sebaiknya tiba di basecamp sore hari, istirahat semalam, lalu mulai pendakian sekitar 05.00–06.00 pagi agar tiba di Surya Kencana menjelang siang. Kondisi Jalur & Estimasi Waktu Jalur via Putri dikenal menanjak sejak awal dan jarang memberi bonus landai. Meski begitu, treknya tergolong stabil dan jelas, dengan banyak akar pohon besar yang membantu pijakan. Di musim kemarau, jalur cukup kering, sedangkan di musim hujan tanahnya bisa licin dan becek. Total waktu tempuh ke Puncak Gede biasanya berkisar antara 5–7 jam (tanpa beban berat dan dengan pace menengah). Jika kamu berniat camp di Surya Kencana, waktu yang ideal untuk mendirikan tenda adalah sekitar pukul 11.00–12.00 siang. Urutan Pos Pendakian 1. Pos 1 – Legok Leunca (±1 jam) Awal jalur dari basecamp langsung menanjak melewati perkebunan warga, lalu masuk ke hutan pinus. Medan berupa tanah padat dengan akar besar. Di sini biasanya tubuh mulai beradaptasi dengan beban dan ritme tanjakan. 2. Pos 2 – Buntut Lutung (±1 jam) Medan semakin menanjak, vegetasi mulai rapat, dan suhu udara menurun. Beberapa titik licin saat lembap. Biasanya pendaki berhenti sebentar di sini untuk minum dan mengatur napas. 3. Pos 3 – Lawang Sekateng (±1 jam) Ciri khas pos ini adalah batu besar dan jalur mulai terbuka di beberapa bagian. Dari sini, kabut sering turun cepat. Di pagi hari, cahaya matahari masuk di sela-sela pohon, menciptakan suasana magis. 4. Pos 4 – Simpang Maleber (±45 menit–1 jam) Simpang ini jadi titik penting karena jalur mulai terasa berat. Terdapat beberapa tempat datar untuk istirahat, namun tidak direkomendasikan untuk mendirikan tenda karena areanya sempit. 5. Pos 5 – Alun-Alun Surya Kencana (±1–1,5 jam) Tiba-tiba vegetasi berubah drastis: pepohonan rapat berganti dengan padang rumput luas berhiaskan bunga edelweiss. Inilah Surya Kencana Timur, tempat favorit untuk mendirikan tenda. Dari sini, jika kamu ingin lanjut ke puncak, cukup membawa barang seperlunya (air minum, jaket, camilan). Camp bisa ditinggal karena jalur puncak berupa tanjakan berbatu yang cukup berat. Menuju Puncak Gunung Gede Dari Surya Kencana ke Puncak Gede ditempuh sekitar 1–1,5 jam. Jalur didominasi batu besar dan sedikit pasir, dengan kemiringan tajam. Sepanjang jalur, kamu bisa melihat kawah Gede dari sisi kanan, yang kadang mengeluarkan asap belerang tipis. Sesampainya di puncak, kamu akan disambut panorama luas: ke arah selatan terlihat Gunung Pangrango dan lembah Mandalawangi; ke timur, bentang padang Surya Kencana terlihat menakjubkan. Turun & Alternatif Jalur Kembali Jika kamu ingin variasi, dari Puncak Gede bisa turun lewat Kandang Badak → Air Panas → Cibodas, namun pastikan sudah mengurus izin lintas. Jika tidak, jalur kembali ke Putri akan lebih cepat — sekitar 3–4 jam turun ke basecamp. Tips Penting Bawa minimal 2–3 liter air per orang. Sumber air terakhir ada di area Surya Kencana (tidak selalu stabil). Hindari meninggalkan sampah atau merusak edelweiss. Gunakan trekking pole untuk membantu tanjakan konstan. Perhatikan cuaca; kabut tebal bisa turun cepat sejak siang hari. Jika melakukan tektok, idealnya mulai maksimal pukul 04.30 pagi dan sudah turun kembali sebelum sore. Penutup Pendakian Gunung Gede via Putri Basecamp Sibolang memberikan kombinasi sempurna antara tantangan dan keindahan. Jalurnya yang menanjak terus membuat jantung berdegup kencang, namun begitu sampai di Surya Kencana, semua rasa lelah akan terbayar tuntas. Dengan penginapan murah dan fasilitas lengkap di basecamp, jalur ini cocok bagi pendaki berpengalaman yang ingin perjalanan efisien namun tetap berkesan.

Muak banget ngelihat orang-orang sipaling pendekar berkumpul sambil ngerokok dan minum-minum lalu bilang, “Kami berbeda tapi tetap satu.” Dalam hati gua cuma mikir: perbedaan apanya? Semuanya belajar silat (ini beladiri). Ajarannya sama tentang kebaikan. Paling cuma beda pandangan falsafah. Lagian ini cuma latihan. Cuma organisasi. Yang bikin manusia, bukan Tuhan, bukan Nabi. Tapi fenomena yang ada sekarang, perguruan silat dijadikan tempat lari, seragam perguruan dijadikan simbol, gelar pendekar dijadikan title semu, keilmuan dan kebatinan dijadikan slogan tapi NOL besar dalam hal praktik. Kemuakan makin jadi ketika omongan besar tapi realitanya NOL besar. Latihan jeblok, sikap kependekaran pun minus. Terus apa yang mau diambil? Membanggakan diri sebagai sipaling pendekar karena sudah melewati fase latihan yang katanya berat dan seleksi ketat, padahal nyatanya bullshit. Latihan disuruh push-up 30 aja maling-maling, sembunyi-sembunyi akal-akalan curang. WTF, bahkan sesuatu yang dilakukan untuk dirinya sendiri aja dia curangi. Lalu setelah fase latihan yang sebenarnya sudah singkat dan dijalani dengan penuh akal-akalan itu selesai, bukannya menambal kekurangan semasa latihan, malah petantang-petenteng. Merasa sipaling jago. Merasa dipaling kuat. Merasa orang lain belum tentu kuat. Ironi. Perguruan silat diperlakukan seperti agama. Pindah perguruan berasa dianggap murtad. Ketahuan ikut latihan di perguruan lain dianggap pengkhianat. Budaya seperti itu yang mau dilestarikan? Sementara latihannya yang seharusnya jadi fokus utama malah dikesampingkan, cuma jadi formalitas. Akhirnya muncul karbitan: latihan sekian bulan sudah berani petantang-petenteng, karena perguruan sudah menganggap “pendekar”. Gua sama sekali nggak menyinggung perguruan tertentu. Ini murni fenomena yang gua lihat sekarang. Dan ironisnya, ketika dikasih tahu, dikritik, dan diberi masukan untuk perbaikan, banyak yang nggak mau terima. Padahal itu jelas berseberangan dengan sifat pendekar yang semestinya: rendah hati dan mau introspeksi. Banyak yang malah mencak-mencak, nggak terima, dan itu justru makin memperlihatkan sifat arogansi. Ini bukan persepsi gua. Ini realita, yang mirisnya banyak orang tutup mata pura-pura nggak tahu. Betul, semua kembali ke pribadi masing-masing. Tapi tetap saja, organisasi punya kewenangan untuk menyeleksi siapa yang layak dan siapa yang tidak. Jadi balik lagi ke pertanyaan inti: organisasi punya standar kelulusan dan benar-benar melaksanakan standar itu, atau tidak? Mendidik anggota, atau justru fokus menambah massa anggota dengan memaksakan kelulusan walau tidak sesuai standar kualitas? Gua nggak ngomongin ajaran. Semua ajaran perguruan gua pastikan baik. Tapi mari ngomong realita. Yang buruk dan melenceng dari ajaran seharusnya disadari dan diperbaiki, bukan ditutup-tutupi pura-pura nggak tahu. Kasihan para pendiri. Banyak yang beralasan, di perguruan itu nggak asal meluluskan, ada seleksi, tapi semua kembali ke masing-masing orangnya. Nah, justru di situ pertanyaannya muncul: kalau sudah diseleksi dan dinyatakan lulus, tapi realitanya nggak sejalan, berarti seleksinya gimana? Jujur aja sama diri sendiri. Akui aja kalau ada pendangkalan kualitas karena fokusnya sudah bergeser ke memperbanyak massa, sehingga seleksi cuma jadi formalitas. Itu realita. Mau kita bilang sejuta kali pun, kalau nggak mau jujur sama hati sendiri, selalu ada jawaban buat nolak kenyataan. Tujuan perguruan adalah mendidik. Kalau pada akhirnya dibilang, “Yang bagus akan terlihat bagus, yang buruk akan terlihat buruk,” lalu apa gunanya ada pelatihan dan seleksi?

Seperti layaknya interview, gua lanjut jelasin lagi dan lagi bahwa gua capable. Bahwa gua ngerti apa yang akan gua ajarkan. Bahwa ini bukan keputusan impulsif. Tapi lagi-lagi, pembicaraan dipotong dan ditarik ke arah yang sama. “Iya pak, dari CV bapak ini sebenernya udah sesuai banget. Tapi ya itu pak, gaji di sini kecil. Di pendidikan memang begini pak. Di semua sekolah juga sama. Jadi kalau mau banyak duit, jangan jadi guru. Jadi karyawan perusahaan aja. Sekolah kan nggak kaya perusahaan yang orientasinya uang.” Di titik ini, jujur aja, gua mulai ngerasa nyebelin. Bukan karena gaji kecilnya—itu sudah beres dari awal. Tapi karena kenapa topik yang sudah clear terus-terusan diulang? Di kepala gua cuma ada satu pikiran: kalau gua ngejar duit, ngapain juga gua ke sini? Tapi ya gua tetap jaga sikap. Tetap ramah. Tetap profesional. Sampai akhirnya gua nanya satu hal yang menurut gua paling krusial. Satu-satunya pertanyaan penting yang gua ajukan sepanjang interview itu. “Di sini kita punya lab komputer nggak, pak?” Gua tekankan kenapa gua nanya itu. Karena ini bukan fasilitas tambahan. Ini kebutuhan primer. Mata pelajarannya coding. Tanpa lab komputer, mau ngapain? Mau ngajarin apa? Teori doang? Jawabannya singkat. Pendek. Dingin. “Iya, kita punya lab di atas.” Habis itu? Topiknya balik lagi ke gaji guru. Di titik itu gua udah capek secara mental. Bukan capek debat, tapi capek karena arah pembicaraannya jelas. Fokusnya bukan pada bagaimana pembelajaran dijalankan, tapi bagaimana guru menyesuaikan diri agar sistem tetap tenang dan tidak merepotkan. Dan mungkin, di situlah benih-benih keanehan itu mulai terasa. Bukan karena sekolahnya jahat. Bukan karena orangnya berniat buruk. Tapi karena sejak awal, yang mereka bicarakan bukan pendidikan, melainkan pengelolaan guru. Bukan pembelajaran, tapi ketertiban. Bukan kualitas, tapi risiko. Dan saat itu gua belum sepenuhnya sadar, tapi sekarang gua paham: di situlah awal dari semua konflik nilai yang muncul belakangan.

Kalau soal uang atau gaji guru, sebetulnya dari awal gua sudah aware. Bahkan bisa dibilang terlalu sadar. Gua punya banyak teman yang berprofesi sebagai guru, dan jujur aja, sering kali ketika denger cerita mereka, refleksi pertama gua bukan kagum, tapi heran. Heran yang jujur. “Ko bisa sih?” “Ko mau sih?” Bukan dalam arti merendahkan, tapi lebih ke rasa tidak habis pikir. Dari cerita tentang beban kerja, tuntutan moral, ekspektasi sosial, sampai urusan gaji yang—ya kita sama-sama tau—kadang bikin geleng kepala. Sampai pada titik gua sering mikir, setengah bercanda setengah serius: amit-amit jangan sampai terjerumus ke sana. Dan anehnya, semua pandangan itu buyar begitu saja ketika suatu hari gua lihat postingan lowongan kerja di sekolah: guru mata pelajaran coding/pemrograman. Niat gua waktu itu sebenarnya sederhana. Bahkan kalau mau jujur, agak egois juga: “Gua mau supaya skill gua nggak tumpul.” Karena gua tau, salah satu cara paling efektif untuk menjaga pemahaman adalah dengan mengajar. Ketika lo mengajar, lo dipaksa ngerti, bukan sekadar bisa. Lo dipaksa menjelaskan, bukan cuma mengerjakan. Bonusnya, ya gua anggap sebagai amal buat akhirat. Dua niat ini ketemu di satu titik. Dan dari situlah keputusan itu lahir. CV gua kirim. Satu minggu kemudian, masuk WA undangan interview. Besoknya gua datang ke sekolah. Interview-nya… jujur aja, kurang mirip interview pada umumnya. Lebih mirip ngobrol santai, bahkan terlalu santai. Kalimat pembuka yang gua terima bukan pertanyaan kompetensi, tapi: “Gimana ceritanya ko bisa ngelamar jadi guru? Ko bisa tau ada lowongan guru dari siapa?” Nada bicaranya akrab, seperti ngobrol sama teman lama. Gua jawab jujur: tau dari teman yang posting di story WhatsApp. Lalu gua lanjut jelasin latar belakang gua: S1 Teknologi Informasi dari UNIPI, kerja di startup kecil di Kota Tangerang, pernah ikut beberapa bootcamp pemrograman, dan secara kapasitas gua yakin bisa mengajar mata pelajaran pemrograman, termasuk menyusun silabus dan alur pembelajaran. Belum selesai gua cerita, dia motong. Topiknya langsung loncat ke gaji. “Tapi gini pak, bapak mungkin udah pernah denger kalau gaji guru itu kecil. Itu beneran pak. Bahkan kadang kalau dari dinas turunnya telat, gaji juga ikutan telat, karena kita ngandelin dari dinas.” Di kepala gua sempat nyempil pikiran: ini kan sekolah swasta, masa sepenuhnya ngandelin dinas? Tapi yaudahlah, gua iyain aja. Gua jawab tenang, bahwa sebelum ke sini gua sudah tau realitas gaji guru. Banyak teman gua guru, gua sering ngobrol soal itu. Dan gua jelasin dengan jelas: gaji bukan prioritas gua. Ketika gua memutuskan masuk dunia pendidikan dan jadi guru, artinya gua sudah siap dengan konsekuensi, termasuk bayaran kecil.
